Skip to main content

Posts

Cukup Tiga Tetes, Bye!

  Hari ini, senin 17 Januari 2022. Ada sedikit pikiran yang menganggu akhir-akhir ini. Kenapa ambisi untuk satu hal itu pelan-pelan mulai luruh. Maksudku, bukankah dia orang yang ditunggu sejak lama? Orang yang masuk circle utama meskipun dia mungkin tidak tahu. Kenapa rasanya seperti, tidak ada jalan lagi untuk membuatnya sesuai dengan harapan 1 tahun lalu, 2 tahun lalu, heey bukan, bahkan ambisi itu adalah harapan belasan tahun lalu? Dan, pagi ini. Duar. Perasaan lega itu datang. Oke, cukup tiga tetes air mata saja sebagai salam perpisahan atas harapan masa lalu. oh wait, hey kenapa menetes terus? oke, boleh tiga tetes lagi, pastikan matamu tidak merah. Haruskah minum kopi sebagaimana yang dilakukan Youngro dan So Hoo dalam Snowdrop untuk menghapus kenangan buruk? Hey , bukankah ini kenangan baik? Tidak harus dihapus dengan segelas kopi panas. Aku lupa sedang puasa sunah hari ini. Anak baik, cup cup cup. Backsound : Lagu Galau dari rumah tetangga sebelah, “Bu...
Recent posts

Sampai Bertemu di Hari Bahagia!

Jangan sekolah dulu, nanti jodohnya jauh  Wah, udah mau 30 tahun ya, hati-hati nanti nyari jodohnya susah, hamil di atas 30 tahun itu riskan banget lho.  Makin nambah umur, makin tua, saingannya tambah banyak nih buat dapetin jodoh. Yang lebih cantik, muda dan soleha pasti banyak.  Karir mulu sih, nyari jodoh kapan.      Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang mungkin kamu dapat ketika umurmu tidak muda lagi dan tak kunjung menikah.       Ada satu hal yang akhir-akhir ini membuat saya menjadi lebih positif dibanding tahun lalu. Yang saya pikirkan ketika hal itu terbersit dalam hati adalah,”saya harus berbagi hal ini ke orang lain”. Ada banyak sekali kisah-kisah tentang bagaimana seorang manusia memutuskan untuk tidak terlalu fokus pada pemenuhan kebutuhan biologis yang satu ini. Dulu bahkan saya menempel sticky note dengan tulisan “Imam Nawawi tidak menikah selama hidupnya” di meja belajar.       Kata “men...

Ngobrolin Jiwa : Toxic

     Saya adalah orang yang belakangan ini kecanduan ngambek di kantor kalo lagi capek dan kerjaan gak selesai-selesai. Sebelum saya jelasin lebih jauh, saya ingin sedikit berbagi tentang hubungan yang saya anggap toxic.  Cerita Pertama      Apakah kalian pernah melihat anak kecil menangis di toko mainan? atau melihat anak kecil yang menjadi nakal di tengah keramaian? Apa yang akan sang Ibu lakukan pada saat itu? Yup, tentu. Sang Ibu akan segera membelikan sang anak mainan atau akan melakukan apapun yang anaknya mau agar anak tersebut berhenti menangis. Begitulah kebiasaan ini berlangsung hingga anak dewasa. Jika pada kondisi normal ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, maka ia akan beraksi ketika berada di tempat keramaian atau di tempat dimana Sang Ibu sulit untuk menolak keinginannya pada saat itu. Kejadian ini akan berulang hingga dewasa.       Di tahun 2013, saya menjadi salah satu staf di Satuan Pemeriksa Internal Ka...

Berat 55kg

Belakangan ini lagi heboh dengan standar kesolehan wanita muslim dengan ukuran berat badan. Terdengar aneh, bahkan ada yang langsung marah2, karena merasa “tidak soleha” karena berat badannya di atas 55. Standar berat ini bermula dari ceramah salah satu ustad yg saya juga punya sekitar 4-5 video offline di ponsel. Lumayan sering didengar, walaupun kadang ketika beliau berumpama,”misalnya tentang malaikat Jibril dan Nabi Muhamad SAW yang sering ngopi2, saya sangaat tidak setuju dan keberatan. Tapi saya tidak punya kapasitas untuk menyampaikan ketidaksetujuan saya, bahkan merasa mungkin ini untuk memudahkan orang awam memahami. Kemudian saya ambil yang baik2nya saja.” Sama halnya ketika berkaitan dengan ceramah beliau yang satu ini, saya lupa judul tepat ceramahnya seperti apa. Tapi seingat saya, saya dengarnya versi full.  Cerita ini ketika Nabi SAW dalam perjalanan, dan Aisyah ra ikut namun dalam keadaan di dalam tandu. Versi fullnya Aisyah ra izin meninggalk...

Salam Hikmah_Pengajian

Jantung masih deg-degan, antara laper dan gak nyangka akhirnya bakal ngalamin ini lagi. Sepanjang perjalanan dari lampu merah masih lemes dan terus mikir. Hari ini ngelakuin dosa apa ya kok sampe kena lagi masalah yang beginian. 20 jam sebelumnya.. Mata sayup-sayup kebangun, kok tengah malem begini berisik. Ngeliatin handphone yang di tarok di lantai, 01.44. tidur lagi. 18 jam sebelumnya… Suara ujan dari subuh gak pelak lagi ibarat nyanyian nina bobok untuk tetap stay di bawah selimut. Lagi, ngeliat jam di handphone baru jam 6an pagi. Padahal rencananya hari ini mau ke kampus buat liat sidang proposal kakak kelas. Tapi magernya masyaAllah. Selimut lebih menarik daripada ilmu, pikiranku waktu itu. Walaupun pas hari mulai cerah, nyesel sih. Kenapa gak dikuatin aja ngampusnya. Nyesel. 6 jam sebelumnya… Jalanan macet parah, memang kalo ada Ustad Abdul Somad masyarakat muslim tuh beneran tumpah ruah di jalanan. Sepanjang dengerin ceramah kita bediri di antara jama...

Random Story

Minggu ketiga setelah didiagnosa terkena tipes, aku mulai bisa beraktifitas tanpa harus melulu berbaring di tempat tidur. Meskipun sesekali masih batuk ketika badan mulai keringatan atau engap naik turun tangga kampus ataupun kosan. Ini minggu ketiga pula salah satu teman kelas kami menghilang dan tidak masuk kelas lagi. Ditelpon gak diangkat bahkan direject, di whatsapp juga gak diread, disms gak dibalas. Berawal dari obrolan kecemasan atas hilang kabarnya mbak Isni, beberapa dari kami berinisiatif untuk mencari ke tempat mbak Isni bekerja. Akhirnya kami punya waktu free di hari kamis, bermodalkan nama sebuah perusahaan Jepang di jakarta pusat dan google maps kami nekad mencari tahu kabar mbak Isni. Jam setengah sepuluh pagi KRL melaju seperti biasa, kami sudah duduk berjejer rapi di gerbong laki-laki. Sesekali aku masih batuk, sambil memegang erat tas ransel abu-abu. Tasku kali ini penuh berisi bekal makan siang, karena aku masih agak trauma kalo makan di pinggir jalan. Kata salah s...

Salam Hikmah_Bukan Doa Ekslusif

      Angin bertiup kencang siang ini, sedikit membuat saya kerepotan. Tumpukan kertas jurnal yang saya letakkan sembarangan di teras masjid sempurna sudah berlarian menuju aula tengah. Sambil mengaduh, saya berlari kecil memungutnya. Dalam hati bergumam,”bikin malu, banyak yang ngelliatin lagi. Mana jilbab sama rok juga ketiup sana-sini”. kalo kata anak gaul mah,”kezel beut gua”, wkwkwk Setelah semuanya terkendali, saya menata lagi tumpukan kertas jurnal, air minum, kotak pensil dan sekotak yogurt. Duduk menghadap hijaunya pegunungan. Teras masjid ini adalah tempat favorit kalo lagi suntuk di kosan. Tadi sebelum pergi, udah niat dulu ntar abis dari swalayan (*berburu mangga diskon) mau nyoba baca-baca di teras masjid, kali aja otak jadi lebih encer. Sekitar 10 meter dari tempat saya duduk, ada sekitar 3 orang anak cowok yang lagi ngobrol. Kayakny sih seumuran adek dan masih kuliah. Sesekali saya mendengar obrolan mereka, terutama tentang segimana nikmatnya menjadi...