Saya adalah orang yang belakangan ini kecanduan ngambek di kantor kalo lagi capek dan kerjaan gak selesai-selesai. Sebelum saya jelasin lebih jauh, saya ingin sedikit berbagi tentang hubungan yang saya anggap toxic.
Cerita Pertama
Apakah kalian pernah melihat anak kecil menangis di toko mainan? atau melihat anak kecil yang menjadi nakal di tengah keramaian? Apa yang akan sang Ibu lakukan pada saat itu? Yup, tentu. Sang Ibu akan segera membelikan sang anak mainan atau akan melakukan apapun yang anaknya mau agar anak tersebut berhenti menangis. Begitulah kebiasaan ini berlangsung hingga anak dewasa. Jika pada kondisi normal ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, maka ia akan beraksi ketika berada di tempat keramaian atau di tempat dimana Sang Ibu sulit untuk menolak keinginannya pada saat itu. Kejadian ini akan berulang hingga dewasa.
Di tahun 2013, saya menjadi salah satu staf di Satuan Pemeriksa Internal Kampus Negeri Islam di Palembang. Atasan saya adalah dosen yang juga mengajar di kampus tersebut sekaligus seorang psikolog profesional. Beliau memiliki tiga orang anak kandung yang ketiganya masih menempuh pendidikan Sekolah Dasar. Suaminya sedang mengenyam pendidikan doktoral di Amerika Serikat. Setelah satu tahun tinggal bersama sang suami di negeri paman sam, beliau memutuskan pulang ke Indonesia. Keadaan memaksa beliau untuk menjadi seorang ibu tunggal. Ada satu cerita menarik yang masih membekas di pikiran saya hingga saat ini, bagaimana beliau men-treatment ketiga anaknya dengan cara yang bisa dibilang anti-mainstream.
Cerita Kedua
Ini adalah kisah percintaan. Bukan cinta pertama, namun dia adalah orang pertama yang saya kenani dalam sejarah kelam dunia per-bucinan. Sehari setelah berikrar bahwa hubungan ini menjadi serius dengan tujuan pernikahan, kami bertengkar hebat. Di malam minggu kami berkelakar ngalur ngidul via ponsel, keesokan harinya berubah menjadi sunyi karena sedikit kesalahpahaman. Tidak ada kelakar lucu penuh harapan seperti malam sebelumnya. Dalam kasus ini, saya yang menjadi orang yang akan terus-menerus meminta maaf dan berusaha mengembalikan keadaan seperti sbeelumnya. Dalam kasus ini, saya menjadi tersangka, saya yang bersalah dengan mengucapkan satu kata "terserah" yang direspon dan didramatisi dengan sebegitu apiknya. Saya masih tidak menyadari pola "ngambek" ini.Hubungan berlangsun berbulan-bulan, meskipun naik turun, seperti muda mudi lainnya. Sampailah di bulan keempat, kami bertengkar hebat, lagi. Sebenarnya saat itu, saya akui ia gentle karena masih mau pamit ke kedua orang tua saya setelah mengantar saya pulang. Tapi saya sudah kadung terbawa emosi, Tidak ada satupun dari kita yang meminta maaf setelah kejadian itu. HIngga hari-hari berikutnya, saya memberanikan diri meminta maaf. Dalam hubungan kami, saya hanya satu kali marah. Hanya malam itu. Selebihnya sayalah orang yang selalu minta maaf dan ia selalu "ngambek" atas hal-hal yang saya pikir sebenarnya bisa diabaikan saja. Hubungan ini berakhir di awal bulan kelima. Saya lelah dengan ngambeknya yang berkepanjangan, dia juga sepertinya lelah dengan saya yang terlalu dingin. Kami mmebebaskan diri dari hubungan yang menguras emosi.
Cerita Ketiga
Ceria ini adalh cerita yang untuk ketiga kalinya pula saya lakukan selama enam bulan terakhir. Saya kecanduan melakukannya lagi dan lagi. Berawal dari keinginan saya untuk resign dari pekerjaan saya di sebuah Pusat Studi Neurosains di Jakarta Selatan. Dengan berbagi permasalah yang tidak kunjung ada titik temu, saya membuat pengumuman yang lebih tepatnya adalah sebuah salam perpisahan. Hal ini ternyata mengundang reaksi yang tidak saya duga sebelumnya. Dari reaksi tersebut, saya jadi merasa bahwa saya sangat dibutuhkan di kantor ini.Seiring dengan berjalannya wakt, minat saya bekerja untuk tujuan pemenuhan ekonomi diri sendiri mulai berkurang. "Kasihan kantor", jawab saya ketika teman kantor iseng bertanya kenapa saya bertahan. Hingga pada suatu hari, saya sedikit kewalan dengan permasalahan pribadi teman-teman kantor. Saya coba untuk tidak terlibat lebih jauh, lebih tepatnya bersikap "bodoh amat". Untuk memulai sikap "bodoh amat" ini, saya awali dengan tidak merespon pesan ketika malam hari, bahkan mematikan ponsel dan tidur lebih awal. Sampai akhirnya, sebuah tragedi terjadi. Ada pengumuman penting di malam itu. Saya panik karena saya baru tau ketika subuh, saya sudah melampaui deadline. Tidak ada cara lain selalin masalah ini harus sampai pada pimpinan level tertinggi. Saya menangis karena panik, saat itu yang terpikir dalam hati hanyalah,"saya tidak capable, lalai, saya harus fokus dan memilih salah satu". Maka, resign merupakan jalan keluarnya saat itu. Apa yang terjadi setelah saya bercerita dengan salah satu teman bahwa kemungkinan besar saya akan resign dalam waktu dekat. Seperti kasus 2 bulan sebelumnya. Atasan saya menelepon dan menyelesaikan semua permasalahan yang saya buat. Saya tenang saat itu, tapi ada sesuatu yang berbeda, membentuk pola dalam pikiran saya. Saya mungkin kecanduan.
Cerita tadi belum selesai, jumat lalu, saya ternyata melakukan kesalahan lagi, yang bagi saya, kesalahan itu bukan murni kelalaian saya, tapi human error yang disebabkan oleh limit kerja yang cenderung tidak terbatas. Ketika saya dicecar dengan pertanyaan yang lebih kepada tekanan, saya marah. "Oke, kita lihat siapa yang butuh saya", ucap saya dalam hati setiap kali saya kesal. Saya kembali berulah, membalas chat teman kantor,"I'm out". Well, polanya sudah terbaca. Sepersekian detik kemudian, saya mendapat telepon lagi dari atasan. Beliau meminta maaf karena load kerja saya yang berlebihan. Saya hanya menjawab pendek. Masih,"ngambek".
Hal yang paling tidak saya sukai ketika saya marah adalah di-treatment berlebihan. Itu sangat membuat tidak nyaman. Ego dalam diri seperti berkata,"butuh gue kan lu". Dampaknya, saya akan melakukan ini lagi dan lagi.
Kembali ke cerita pertama. Apa yang dosen saya lakukan ketika anaknya menangis di sebuah mall agar keinginannya dipenuhi? Beliau hanya berdiri di pojokan, menunggu pertunjukkan anaknya menangis selesai. Sesekali pengunjung mall menghampiri anaknya, menawarkan bantuan. Dosen saya dari jauh memberi sinyal,"jangan diganggu, itu anak saya". Saat itu saya tanyakan kepada beliau,"ibu, kenapa anaknya harus dibiarin? kan ibu uangnya banyak, tinggal beliin aja". Beliau saat itu hanya menjawab singkat,"kalau saya penuhi keinginannya di hari itu, maka hari itu akan menjadi hari yang akan saya sesali seumur hidup". Dosen saya kemudian melanjutkan,"kamu tahu apa yang saya katakan ke anak-anak saya ketika akhirnya mereka menyerah setelah menangis di mall?," saya menggelang pelan. "Saya bilang, kalian kenapa nangis kenceng? kalau kalian jadi anak baik, bunda akan beliin, gak perlu nangis begitu. Capek kan?. Sejak saat iru, setiap ingin sesuatu, anak-anak saya tau apa yang harus dilakukan, tentunya tidak menangis dan mempermalukan diri di keramaian".
Dari ketika cerita di atas, salah satu ciri yang saya pahami adalah bahwa hubungan toxic bisa terjadi saat kita memberikan apa yang ia inginkan ketika ia marah, ngambek dan lain-lain. Mungkin dengan pemahaman sederhana, tindakan ini dianggap benar karena meminimalisir risiko masalah menjadi lebih besar. Tapi sesungguhnya kita sedang memberikan reward atas sikapnya yang tidak dibenarkan, menjengkelkan dan untuk level tertentu bisa nyeleneh. Dampaknya? Ia akan melakukan hal ini lagi dan lagi. Ketagihan dengan sensasi "ngambek" yang dimanjakan.
Mulailah hubungan dengan memberikan hadiah atau apresiasi pada kondisi normal. Tidak saat sedang bahagia atau saat sedang marah. Buatlah bahwa kondisi normal adalah kondisi bahagia yang terkontrol dan penuh kejutan kecil.
Selamat menjalin hubungan yang lebih sehat!
Comments
Post a Comment