Skip to main content

Sampai Bertemu di Hari Bahagia!

Jangan sekolah dulu, nanti jodohnya jauh 

Wah, udah mau 30 tahun ya, hati-hati nanti nyari jodohnya susah, hamil di atas 30 tahun itu riskan banget lho. 

Makin nambah umur, makin tua, saingannya tambah banyak nih buat dapetin jodoh. Yang lebih cantik, muda dan soleha pasti banyak. 

Karir mulu sih, nyari jodoh kapan.

    Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang mungkin kamu dapat ketika umurmu tidak muda lagi dan tak kunjung menikah. 

    Ada satu hal yang akhir-akhir ini membuat saya menjadi lebih positif dibanding tahun lalu. Yang saya pikirkan ketika hal itu terbersit dalam hati adalah,”saya harus berbagi hal ini ke orang lain”. Ada banyak sekali kisah-kisah tentang bagaimana seorang manusia memutuskan untuk tidak terlalu fokus pada pemenuhan kebutuhan biologis yang satu ini. Dulu bahkan saya menempel sticky note dengan tulisan “Imam Nawawi tidak menikah selama hidupnya” di meja belajar. 

    Kata “menikah adalah sunnah Nabi Saw, barang siapa yang tidak mengikuti sunahnya maka bukan umat Nabi Saw” sudah tidak asing lagi terdengar. Lantas apakah hanya pernikahan satu-satunya sunah Nabi Saw? Tentu tidak, namun ini juga bukan pembenaran jika seseorang memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupnya, namun tetap melakukan hubungan biologis seperti layaknya sebuah pernikahan. Maka jelas alasan tidak menikah karena mengikuti sebagian ulama hanya sebagai pembenaran saja. 

    Apa yang sudah dilakukan hingga memasuki usia saat ini? Saya sudah mengambil banyak keputusan besar dan terjun dalam kondisi yang tidak pasti. Mungkin kalian sudah tidak asing dengan istilah,”life crisis start at 25 yo”. Yups, saya melakukan hal yang berisiko di umur 25 tahun. Keluar dari sebuah Bank Syariah setelah bekerja kurang lebih 3 tahun 8 bulan dan memilih untuk melanjutkan kuliah pasca sarjana secara mandiri. Dengan modal tabungan yang tidak seberapa, saya melangkah dengan tujuan yang sangat idealis saat itu. Namun, kuliah pasca sarjana tanpa beasiswa, berjuang sendiri untuk membayar uang kuliah dan biaya hidup ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Memasuki tahun ke empat berkuliah, saya bahkan belum lulus. Pelajaran besar dalam hidup yang tidak pernah saya sesali sedikitpun. Saat ini, dalam lingkup pertemanan, saya adalah satu-satunya yang belum menikah. Saya memulai banyak hal lebih dulu dibanding teman-teman sebaya saya (sahabat dekat), seperti saya lulus lebih cepat, menjadi seorang banker yang kedengarannya keren (meskipun sebenarnya tidak selalu), bahkan saya sudah dilamar di saat sebagian teman saya bahkan belum lulus kuliah. Saya, secara standar masyarakat terlihat “beruntung dan mengesankan” pada saat itu. Kallian tentu tidak perlu bertanya apa yang terjadi, kenapa sekarang terkesan mengalami kemunduran? Haha. Berat saya naik hampir 10 kg dalam setahun terakhir. Perut saya lebih buncit, pipi lebih tembem, dan kantung mata cenderung menghitam. Dari artikel yang pernah saya baca, perempuan di atas 26 tahun lebih mudah buncit memang. Sudah 3 tahun berlalu, saya sudah 29 tahun, artikel itu benar. Secara fisik, saya tentu dikeluarkan dari standar kecantikan oleh calon ibu mertua.  Kekurangan dari segi fisik membuat saya lebih rajin berolahraga.

    Apapun itu, sehancur apapun kita memandang diri kita karena tidak berada di level yang sama dengan teman sebaya kita, kita pasti tetap bertumbuh. Ada hal yang tidak bisa bertumbuh hanya dengan pengetahuan dari atas kertas saja. Ada hal yang tidak bisa bertumbuh hanya dengan pencapai-pencapaian cemerlang saja. Ada banyak hal yang bertumbuh ketika kita berada di situasi yang jauh berbeda dari orang-orang kebanyakan. 

    Selanjutnya, saya akan mengajak anda berpikir sedikit lebih matematis. Jika kita ditakdirkan mendapat jodoh pada umur 16 tahun, apakah ada yang bisa menghalanginya? Negara saja tidak bisa meskipun peraturan umur pernikahan bagi perempuan minimal 18 tahun. Secara legalitas pernikahan tersebut tidak bisa dicatatkan secara sah, kalian hanya akan disidang. Lantas apakah pernikahan tersebut tidak sah secara agama? Tentu tidak. Karena begitulah semesta bekerja. Sudah waktunya. Sudah tercatat jauh-jauh hari di kitab yang orang-orang kadang bertindak seolah-olah kitab itu tidak pernah ada, seperti menghakimi jalan hidup orang lain. Jika seseorang ditakdirkan menikah pada umur 25 tahun, di saat karirnya cemerlang, secara biologis sudah matang bahkan dikatakan pada kondisi terbaik, apakah itu hanya karena dia beruntung? Apakah pernikahannya menjadi lebih cepat atau mundur karena disesuaikan dengan kondisi-kondisi lain? Tentu tidak. Yang tercatat pada kitab adalah “sekarang waktunya”. Dalam kondisi seperti inilah standar yang sering dijadikan acuan ditetapkan secara tidak sadar oleh masyarakat sebut saja sebagai standar sosial. Kondisi terbaik secara materi dan biologis. Lalu apa yang terjadi jika pada kitab tertulis bahwa seseorang akan menikah pada usia 30 tahun, bahkan di atas 40 tahun seperti halnya wakil presiden Amerika terpilih, Kamala Haris yang menikah di usia 49 tahun. Apakah waktu pernikahan itu bisa dilakukan lebih cepat agar sesuai dengan standar sosial masyarakat (khususnya Indonesia)?. 

    Jika kita seorang muslim, mungkin kita lupa dengan kalimat pada kitab yang berdebu di rumah kita, Ali Imran: 160, yang artinya “jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan) maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal”. *Ikhtiar perlu, tapi tak ada kewajiban untuk mengumumkan ikhtiar yang kita lakukan. 

    Mari kita lanjutkan pada hitungan matematis tadi. Jika saat ini usia kita sudah lebih dari 30 tahun atau bahkan di atas itu, apakah mungkin jodoh kita terlewatkan? Tentu tidak mungkin. Maka apa skenario yang tersisa? Bisa jadi kita menikah di usia 31, 32 dan seterusnya. Apakah kalimat,”Wah, udah mau 30 tahun ya, hati-hati nanti nyari jodohnya susah” masih berlaku? Bukankah secara matematis kita sudah mendekati takdir kita? Tentu. Semakin bertambah umur, percayalah jodoh kita semakin dekat bukan semakin jauh. Tidak ada takdir yang terlewat, semua diciptakan secara tepat baik waktu maupun ukurannya. Apakah mungkin tidak bisa punya anak jika sudah usia 30 tahun ke atas? Secara biologis mungkin memang berisiko, namun coba diingat-ingat lagi kisah Nabi Zakaria as. Jika masih belum yakin, hey kita masih punya senjata lain sebagai tindakan preventif yaitu usahakan hidup sehat dan berbahagialah. 

    Kalian tau apa yang bertumbuh dalam diri seseorang ketika terus mengalami kegagalan? Ketabahan! Iyup. Saya & Anda jadi lebih tabah. Itu adalah salah satu senjata rahasia lainnya dalam sebuah pernikahan. Tidak mudah menjadi tabah, ada keyakinan dan kekuatan di sana. Bahkan seoarang profesor Psikologi di University of Pennsylvania membuat sebuah buku yang menjadi best seller di New York Times yang khusus hanya membahas tentang ketabahan. Tetaplah tabah (yang berarti kita akan tetap berusaha dan gigih), hidup sehat dan berbahagia. Sampai bertemu di hari bahagia! 

With Love Ellysa 


 

Comments

  1. benar, tidak mudah menjadi tabah. dan orang yang tabah adalah orang-orang pilihan dari Allah. semoga kita tergolong orang tabah yang selalu Allah kuatkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya Allah… akhirny bu Guru Tira dpt coment pake user name sndiri ye. Alhamdulillah😍

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perjalanan

Dulu gak pernah kepikiran bakal melangkah sejauh ini. Kalo dibandingin sama orang lain mungkin udah ketinggalan jauh, tapi jika pembandingnya adalah "aku yang dulu" maka rasanya lumayan sebuah kemajuan untuk punya tekad & mental seyakin ini Pas pertama kali tercetus pengen pendidikan lagi antara yakin gak yakin. Ini beneran mau sekolah lagi apa cuma jadi pelarian aja. Waktu berlalu keinginan untuk sekolah kadang timbul kadang tenggelam. Kalo lagi suntuk sama kerjaan, rasanya pengen sekolah lagi. Tapi kalo kerjaan adem ayem, udah ah disini aja. Masih dalam tahap nge'fixin niat. Karena secara pribadi saya sangat memegang teguh hadits "innamal a'malubinniyat " (maaf jika penulisan redaksinya salah). Bias sedikit aja dalam niat, maka kelar semua apa yang diusahakan. Gak jadi pahala, gak lillahita'ala. Dalam hitungan tahun saya masih bergelut dalam ngfixin niat tadi. Nyari-nyari hal yang emang bener-bener dijadiin fondasi kuat sebagai niat, harapannya...

Cukup Tiga Tetes, Bye!

  Hari ini, senin 17 Januari 2022. Ada sedikit pikiran yang menganggu akhir-akhir ini. Kenapa ambisi untuk satu hal itu pelan-pelan mulai luruh. Maksudku, bukankah dia orang yang ditunggu sejak lama? Orang yang masuk circle utama meskipun dia mungkin tidak tahu. Kenapa rasanya seperti, tidak ada jalan lagi untuk membuatnya sesuai dengan harapan 1 tahun lalu, 2 tahun lalu, heey bukan, bahkan ambisi itu adalah harapan belasan tahun lalu? Dan, pagi ini. Duar. Perasaan lega itu datang. Oke, cukup tiga tetes air mata saja sebagai salam perpisahan atas harapan masa lalu. oh wait, hey kenapa menetes terus? oke, boleh tiga tetes lagi, pastikan matamu tidak merah. Haruskah minum kopi sebagaimana yang dilakukan Youngro dan So Hoo dalam Snowdrop untuk menghapus kenangan buruk? Hey , bukankah ini kenangan baik? Tidak harus dihapus dengan segelas kopi panas. Aku lupa sedang puasa sunah hari ini. Anak baik, cup cup cup. Backsound : Lagu Galau dari rumah tetangga sebelah, “Bu...