Minggu ketiga setelah didiagnosa terkena tipes, aku mulai bisa beraktifitas tanpa harus melulu berbaring di tempat tidur. Meskipun sesekali masih batuk ketika badan mulai keringatan atau engap naik turun tangga kampus ataupun kosan. Ini minggu ketiga pula salah satu teman kelas kami menghilang dan tidak masuk kelas lagi. Ditelpon gak diangkat bahkan direject, di whatsapp juga gak diread, disms gak dibalas. Berawal dari obrolan kecemasan atas hilang kabarnya mbak Isni, beberapa dari kami berinisiatif untuk mencari ke tempat mbak Isni bekerja. Akhirnya kami punya waktu free di hari kamis, bermodalkan nama sebuah perusahaan Jepang di jakarta pusat dan google maps kami nekad mencari tahu kabar mbak Isni. Jam setengah sepuluh pagi KRL melaju seperti biasa, kami sudah duduk berjejer rapi di gerbong laki-laki. Sesekali aku masih batuk, sambil memegang erat tas ransel abu-abu. Tasku kali ini penuh berisi bekal makan siang, karena aku masih agak trauma kalo makan di pinggir jalan. Kata salah satu temanku yang punya basic medis, tipes itu penyakit karena jorok, terutama masalah makanan. Sontak saja aku malu kalau ada yang tanya aku sakit apaan, perempuan jorok itu gak banget kalo dipikir-pikir mah. Dua bulan kurang 10 hari kerja di kawasan sudirman, pp bogor-jakarta, berangkat subuh pulang malem kadang gak terlalu mikirin ini makanan bersih apa nggak. Kalo lagi pengen makan sate, walaupun di pinggir jalan yaudah makan aja. Jarang banget masak, dari sarapan sampe makan malam semuanya serba beli. Buah aja belinya yang udah dipotong. Kalo dipikir-pikir lagi emang segitu hecticnya kerjaan di kantor?
Setelah sampai di stasiun sudirman, kami berinisiatif untuk naik busway, ini jalur yang biasa aku lalui untuk pergi kerja. Namun aku belum pernah naik busway, lebih praktis naik metro mini karena tidak perlu menunggu dan berjalan jauh menuju halte. Dari stasiun sudirman kami jalan kaki mencari halte busway, lumayan jauh juga sih akhirnya kami tiba di halte Duku Atas. Katro gak pernah naik busway, aku hampir kejepit pintu. Hampir. Belasan menit melaju, kami sampai di Halte GBK, namun kami juga tak kunjung menemukan gedung tempat mbak Isni kerja, ditambah lagi ketika kami iseng bertanya ke petugas halte busway, eh si bapak malah ngotot kalo kami harus turun di halte berikutnya. Padahal menurut google map kami tinggal jalan kaki sekitar 100 meter. Karena temen kita ceu anita lebih percaya sama google maps ketimbang si bapak yaa maaf ya pak kita langsung buru-buru ninggalin si bapak yang mukanya masih jutek. Siang sekitar setengah dua belas untuk ukuran kota jakarta rasa-rasanya ini masih kategori yang gak panas, angin lumayan kencang buat ngeringin keringat yang sedari tadi bikin basah jilbab. Akhirnya kami tiba di gedung Summit Mas. Setelah diminta untuk meninggalkan kartu identitas dan diganti dengan id card tamu kami bertiga dipersilahkan untuk naik ke lantai 3. Lantai dimana mbak Isni bekerja. Sepanjang perjalanan sebelum sampai ke gedung tersebut, kami sempat mengatur rencana jika saja mbak Isni gak mau ketemu kita.
“ntar kita jangan bilang bahwa kita temennya, bilang aja saudaranya dari Bandung”, aku yang punya ide sambil ketawa cekikikan yang ternyata dibalas dengan anggukan setuju dua enceu yang lain. Dengan pertimbangan terburuk kalau ternyata mbak Isni gak mau diganggu atau bahkan malah mengusir kita bertiga.
Setelah sampai di meja resepsionis selanjutnya, kita kembali ditanya terkait identitas.
“mbaknya siapanya mbak Isni ya?”
Kali ini aku yang menjawab gagap
“eh, temennya mbak”, sambil tersenyum getir. Dalam hati yaaah kan tadi mau bohong bilang kalau kita saudaranya.
“namanya siapa mb?”
Kali ini aku memilih diam dan ngasih kode ke mbak Sari biar dia aja yang jawab
“em, Sari, Ellysa dan Anita mbak”, sambil kembali menoleh ke arah ku. Tatapannya seolah mengatakan “ceu, kita gak bakat bohong”.
Sepertinya resepsionis tersebut juga ragu dengan informasi yang kita berikan, karena kita bertiga kelihatan sekali gagap buat jawab pertanyaan sesimpel itu. Aku samar-samar mendengar dia bisik-bisik ditelpon, mungkin kalau mbak Isni gak mengkonfirmasi bahwa dia kenal dengan kami, kami akan segera diusir. :)
Daaan….
Alhamdulillah
Mbak Isni keluar ruangan dan langsung bilang minta maaf. Mengklarifikasi semuanya, kenapa gak jawab telpon, gak balas chat ataupun sms. Sambil matanya berkaca-kaca, bilang makasi udah repot-repot nyariin. Dan sampailah kita ke kata-kata yang selama ini emang sudah menjadi perbincangan kita di kelas bahwa mbak Isni memutuskan untuk berhenti sementara melanjutkan kuliahnya. Kita lega karena mendengar kata-kata tersebut langsung dari mulutnya, tapi sekaligus sedih kalau harus kehilangan satu orang lagi anggota kelas. Sebelumnya di dua bulan perkuliahan sempat ada satu orang mahasiswa yang cuti karena anaknya sakit, dan dua lagi (suami istri) benar-benar berhenti karena suaminya pindah tugas. Padahal mereka sudah mencicil rumah di daerah Depok, tapi Allah berkehendak lain. Dan yang alhamdulillahnya istrinya memutuskan keluar dari bank konvensional dan memilih apply pekerjaan di bank syariah di daerah suaminya dimutasi meskipun suaminya masih di konvensional tapi takdir ini sudah dalam skenario Allah. Semoga Mbak Ines dan Mas Pajar segera diberikan jalan yang terbaik dari Allah, aamiin.
Balik lagi ke mbak Isni, setelah memutuskan untuk bertemu lagi di jam makan siang. Kami menumpang shuttle bus menuju tempat janjian, FX.
“udah hampir jam satu nih, mbak Isni kok belum datang”, celetukku
“apa jangan-jangan….” kita sontak tertawa
“kalo mbak Isninya ngilang lagi, kita samperin lagi ke kantornya”, kali ini kami benar-benar tertawa terbahak-bahak.
Dan ternyata mbak Isni udah muter-muter nyariin kita, bahkan sempat ke bagian pengumuman buat ngumumin bahwa dia lagi nyariin kita bertiga. Waah parah, berasa kayak anak ilang.
Setelah banyak percakapan yang kami lalui, terutama menyemangati mbak Isni buat kuliah lagi. Mulai dari ngomongin dosen yang udah ganti, gak sekiller dosen sebelum UTS sampe bilang kalau ada tugas kita mau bantuin. Padahal kita bertiga aja sebenarnya kewalahan sama semua tugas yang diberikan dosen. Yaaah namanya juga ngerayuu..
Akhirnya kita pulang setelah pertemuan singkat tersebut, kembali mbak Isni bilang makasi dan minta maaf. Matanya masih berkaca-kaca, bilang terharu udah dicariin.
Kita bertiga hanya tersenyum sambil bilang, “ntar kita jalan-jalan ke taman Safari, tapi syaratnya harus masuk kuliah dulu mbak Isninya yaa!”.
Dan alhamdulillah, mbak Isni masuk kuliah dipertemuan selanjutnya meskipun ketinggalan satu mata kuliah. Namun kabar buruknya adalah… Mbak Sari gak masuk…
What?? harus nih kita datengin ke kliniknya kamu ceu?
Comments
Post a Comment