Skip to main content

Berat 55kg

Belakangan ini lagi heboh dengan standar kesolehan wanita muslim dengan ukuran berat badan.
Terdengar aneh, bahkan ada yang langsung marah2, karena merasa “tidak soleha” karena berat badannya di atas 55.
Standar berat ini bermula dari ceramah salah satu ustad yg saya juga punya sekitar 4-5 video offline di ponsel. Lumayan sering didengar, walaupun kadang ketika beliau berumpama,”misalnya tentang malaikat Jibril dan Nabi Muhamad SAW yang sering ngopi2, saya sangaat tidak setuju dan keberatan. Tapi saya tidak punya kapasitas untuk menyampaikan ketidaksetujuan saya, bahkan merasa mungkin ini untuk memudahkan orang awam memahami. Kemudian saya ambil yang baik2nya saja.”

Sama halnya ketika berkaitan dengan ceramah beliau yang satu ini, saya lupa judul tepat ceramahnya seperti apa. Tapi seingat saya, saya dengarnya versi full. 
Cerita ini ketika Nabi SAW dalam perjalanan, dan Aisyah ra ikut namun dalam keadaan di dalam tandu. Versi fullnya Aisyah ra izin meninggalkan rombongan untuk kepentingan pribadi, kalau gak salah juga Aisyah ra kehilangan perhiasannya dan kemudian ketinggalan rombongan. Salah satu anggota rombongan yang menyisir jika saja ada anggota yang tertinggal ternyata menemukan Aisyah ra, dan kemudian membantu beliau untuk kembali menyusul rombongan. (Saya lupa tepatnya siapa laki-laki ini, tapi di salah satu ceramah lelaki ini pernah dibahas sbg lelaki idaman karena keteguhannya menjaga pandangan. Ceramah versi membahas lelaki ini juga menjelaskan bagaimana beliau mentreatment Aisyah ra dengan baik, saya lupa-lupa ingat,”apakah Aisyah ra naik kuda, lelaki ini berjalan kaki di belakang; atau sama2 naik kuda, Aisyah ra di depan lelaki ini di belakang, atau sebaliknya saya lupa persisinya). Kisah ini juga asal muasal Aisyah ra difitnah telah berzina dengan lelaki tersebut, sehingga kemudian muncullah ayat Al-Quran yang kemudian membebaskan Aisyah ra dari tuduhan tersebut. 
Balik lagi ke peristiwa bagaimana kemudian Aisyah ra bisa tertinggal rombongan? Tidak merasakah para pembawa tandu bahwa Aisyah ra tidak berada di dalamnya?
Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berat badan 55 kg. 
Ustad tsb menyatakan bahwa berat tandu kurang lebih 50-60kg, sedangkan berat Aisyah ra kurang dari berat tandu tersebut, bisa jadi 55 kg. 
Dan ini kemudian disebar luaskan, dipelintir, di justifikasi, beberapa inisial ustad lain kemudian disangkutpautkan. Bahkan ikhwanul muslimin di timur tengah sana ikut terseret. 

Coba tarik nafas perlahan, bagi yang beratnya di atas 55kg dimohon untuk tidak baper. Saya wanita dengan berat 50kg sebelum makan, dan 51,5 kg setelag makan. Tapi saya tak langsung besar kepala dengan standar soleha yang mungkin “hanya” sekedar sebagai motivasi untuk para wanita muslim lainnya bahwa, “marilah kita sederhana saja dalam hal “makan”. Marilah kita zuhud jangan berlebihan, bukan karena soleha 55 kg, tapi karena kita menahan diri untuk tidak makan berlebihan, untuk tidak mendzalimi tubuh ini dengan makanan yang mungkin mendatangkan penyakit jika dikonsumsi berlebihan. Bukankah Rasullah SAW merelakan bagian terbaik dari hewan yang diberikan kepadanya untuk kemudian diberikan kepada orang lain? Bukankah Rasulullah bahkan menahan perutnya dengan batu saat kelaparan dan tidak ada yang bisa dimakan? 


#jadikanlah berat 55 kg ini sebagai bahan motivasi kita jika rasa2nya makan kita sudah tidak terkontrol, sudah tidak sesederhana para pendahulu kita. Bukan karna ingin dianggap soleha, tentu bukan. Tapi karena sikap zuhud kita, sikap sederhana

#yang pro dengan ikhwanul muslimin, jangan langsung semerta2 marah membabi buta, menjustifikasi ceramah2 ustad salaf, mungkin ceramahny sudah dipotong, tidak dalam versi full
#pun begitu juga yang sudah ikut pengajian salaf, jgn merasa benar dan menyebarkan hal2 yg mengundang perpecahan, stop membagikan hal2 yang sebenarny kalian juga copy paste kan? Jadikanlah tabayyun sebagai solusi pertama kita sebagai saudara.
#kita para muslim muslimah, bersyahadat atas Nama Allah, dengan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah sudah selayaknya saling menguatkan dengan apa yang kita masing2 yakini, bukannya sudah sunatullah di akhir zaman nanti kita bahkan terbagi menjadi puluhan golongan? Lantas apa yang kita perdebatkan? Mengingkarinya?

#saya muslimah yang sedih melihat perang medsos yang saling menjatuhkan dan menjelekkan, padahal kita saudara. Dengan non muslim saja kita mesti baik, apalagi dengan saudara seiman. 

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan

Dulu gak pernah kepikiran bakal melangkah sejauh ini. Kalo dibandingin sama orang lain mungkin udah ketinggalan jauh, tapi jika pembandingnya adalah "aku yang dulu" maka rasanya lumayan sebuah kemajuan untuk punya tekad & mental seyakin ini Pas pertama kali tercetus pengen pendidikan lagi antara yakin gak yakin. Ini beneran mau sekolah lagi apa cuma jadi pelarian aja. Waktu berlalu keinginan untuk sekolah kadang timbul kadang tenggelam. Kalo lagi suntuk sama kerjaan, rasanya pengen sekolah lagi. Tapi kalo kerjaan adem ayem, udah ah disini aja. Masih dalam tahap nge'fixin niat. Karena secara pribadi saya sangat memegang teguh hadits "innamal a'malubinniyat " (maaf jika penulisan redaksinya salah). Bias sedikit aja dalam niat, maka kelar semua apa yang diusahakan. Gak jadi pahala, gak lillahita'ala. Dalam hitungan tahun saya masih bergelut dalam ngfixin niat tadi. Nyari-nyari hal yang emang bener-bener dijadiin fondasi kuat sebagai niat, harapannya...

Cukup Tiga Tetes, Bye!

  Hari ini, senin 17 Januari 2022. Ada sedikit pikiran yang menganggu akhir-akhir ini. Kenapa ambisi untuk satu hal itu pelan-pelan mulai luruh. Maksudku, bukankah dia orang yang ditunggu sejak lama? Orang yang masuk circle utama meskipun dia mungkin tidak tahu. Kenapa rasanya seperti, tidak ada jalan lagi untuk membuatnya sesuai dengan harapan 1 tahun lalu, 2 tahun lalu, heey bukan, bahkan ambisi itu adalah harapan belasan tahun lalu? Dan, pagi ini. Duar. Perasaan lega itu datang. Oke, cukup tiga tetes air mata saja sebagai salam perpisahan atas harapan masa lalu. oh wait, hey kenapa menetes terus? oke, boleh tiga tetes lagi, pastikan matamu tidak merah. Haruskah minum kopi sebagaimana yang dilakukan Youngro dan So Hoo dalam Snowdrop untuk menghapus kenangan buruk? Hey , bukankah ini kenangan baik? Tidak harus dihapus dengan segelas kopi panas. Aku lupa sedang puasa sunah hari ini. Anak baik, cup cup cup. Backsound : Lagu Galau dari rumah tetangga sebelah, “Bu...

Sampai Bertemu di Hari Bahagia!

Jangan sekolah dulu, nanti jodohnya jauh  Wah, udah mau 30 tahun ya, hati-hati nanti nyari jodohnya susah, hamil di atas 30 tahun itu riskan banget lho.  Makin nambah umur, makin tua, saingannya tambah banyak nih buat dapetin jodoh. Yang lebih cantik, muda dan soleha pasti banyak.  Karir mulu sih, nyari jodoh kapan.      Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang mungkin kamu dapat ketika umurmu tidak muda lagi dan tak kunjung menikah.       Ada satu hal yang akhir-akhir ini membuat saya menjadi lebih positif dibanding tahun lalu. Yang saya pikirkan ketika hal itu terbersit dalam hati adalah,”saya harus berbagi hal ini ke orang lain”. Ada banyak sekali kisah-kisah tentang bagaimana seorang manusia memutuskan untuk tidak terlalu fokus pada pemenuhan kebutuhan biologis yang satu ini. Dulu bahkan saya menempel sticky note dengan tulisan “Imam Nawawi tidak menikah selama hidupnya” di meja belajar.       Kata “men...