Angin bertiup kencang siang ini, sedikit membuat saya kerepotan. Tumpukan kertas jurnal yang saya letakkan sembarangan di teras masjid sempurna sudah berlarian menuju aula tengah. Sambil mengaduh, saya berlari kecil memungutnya. Dalam hati bergumam,”bikin malu, banyak yang ngelliatin lagi. Mana jilbab sama rok juga ketiup sana-sini”. kalo kata anak gaul mah,”kezel beut gua”, wkwkwk
Setelah semuanya terkendali, saya menata lagi tumpukan kertas jurnal, air minum, kotak pensil dan sekotak yogurt. Duduk menghadap hijaunya pegunungan. Teras masjid ini adalah tempat favorit kalo lagi suntuk di kosan. Tadi sebelum pergi, udah niat dulu ntar abis dari swalayan (*berburu mangga diskon) mau nyoba baca-baca di teras masjid, kali aja otak jadi lebih encer.
Sekitar 10 meter dari tempat saya duduk, ada sekitar 3 orang anak cowok yang lagi ngobrol. Kayakny sih seumuran adek dan masih kuliah. Sesekali saya mendengar obrolan mereka, terutama tentang segimana nikmatnya menjadi seorang muslim. Feeling saya mereka sedang holaqoh. :D
Sambil nulis ini, sesekali saya menatap pemandangan di depan. Rasanya jaman milenial begini gak kekinian banget kalo gak update. Udah deh, alay mode on. Pas baru mau videoin, eh si kertas malah ketiup angin lagi. Pas udah beres sama kertas, malah hpnya yang ngehang. Dan diakhiri dengan koma. Belakangan ini hp jadi rada suka nyari gara-gara sih. Padahal perjuangan buat belinya aja lumayan lho. Hampir 4 bulan gak make smartphone biar bisa nabung dan nahan diri. Komunikasi cuma pake hp jadul yang bisa sms dan telpon. Tapi banyak positifnya sih. Karena saya juga sepertinya masuk kategori smartphone addicted. Nah pas bisa beli hp ini, kadang suka muncul ujubnya. Lebih nempel sama hp daripada buku, boro-boro pegang Al-Quran. Allah knows the best. Sampailah akhirnya sekarang, susah banget buat pake hp ini diluar ruangan/kamar. Karena dia gak bisa jauh dari chargeran. Alhamdulillah sih, Allah udah jaga saya sampe segininya, hati yang sedikit berbelok aja langsung dapat tamparan. Kalo kata Aa Gym, jika sesuatu yang kita sayangi bisa melalaikan kita, maka ada waktunya Allah ambil. Karena Allah sayang.
Balik lagi ke pemandangan depan saya, dulu saya excited banget kalo lagi penawaran pembiayaan atau ngollect ke daerah yang banyak bukitnya (*gak ada gunung di Belitung mah, untuk sekelas gunung tajam aja tingginya gak memenuhi standar untuk disebut gunung, ini kata guru geografi pas SMA). Pernah sesekali nyeletuk bilang gini,”enak ya kalo kerja atau punya tempat tinggal yang selalu bisa ngeliat gunung tiap hari.” sambil menghirup dalam-dalam udara di daerah tersebut. Terus teman saya yang denger langsung bilang gini,”ntar lama-lama juga bosen, ini karena kita ke sininya hanya sesekali ca makanya jadi sesuatu yang wah”. Masuk akal sih kalo dipikir-pikir. Tapi selama 4 bulan lebih di sini, saya belum bosan. Masih excited kalo pagi-pagi duduk di teras kosan nungguin tukang sayur lewat sambil ngeliat pemandangan gunung salak di depan. Hijau pepohonan, kadang atasnya ketutup kabut awan. Penasaran sama kehidupan orang-orang di sekitar lereng pegunungan tersebut. Kadang juga suka mikir hal-hal mistis, mulai deh cerita hantu pegunungan sama teman kos yang emang suka naik gunung. Ingat pesawat sukoi yang jatuh di gunung ini beberapa tahun lalu kan? Cerita ini sering dikaitkan dengan hal-hal mistis.
Kemistisan gunung salak bukan the main topic cerita ini. Guess what?
HARAPAN
Harapan saya untuk bisa sering melihat pemandangan gunung. Harapan yang belum saya lantunkan dalam bentuk bait doa. Belum saya utarakan ke sang pengabul doa di setiap sujud akhir sholat, bahkan gak kepikiran buat doa ini saya turun hujan. Hanya harapan yang muncul ketika saya sedang melihat indahnya lekuk bukit di daerah saya. Gak pernah sekalipun masuk dalam jajaran doa ekslusif. Tapi lihat sekarang, setiap buka pintu kosan, gunung salak sudah berdiri gagah didepan. Subhanallah, Allahuakbar.
Tadi pagi saya download salah satu video tentang tafsir surat Ad-Dhuha, video subtitle Syekh Taqwfique Chowdhury. Isinya subhanallah. Surat ini diturunkan saat Nabi Muhammad SAW tidak mendapatkan wahyu dari Allah SWT selama 6 bulan. Malaikat Jibril tidak turun, dan Nabi Muhammad SAW tidak bermimpi. Rasulullah SAW berpikir apakah Allah membencinya? Beliau SAW mengira Allah SWT tidak menginginkannya menjadi nabi lagi. Namun kemudian Allah SWT berfirman,
“Wadhdhuha”
“Demi matahari yang sepenggalan naik”
Hal pertama yang diberitahu kepada orang yang depresi, “Bangunlah, lihatlah cahaya matahari!”. tidak semuanya suram. Ada matahari indah di atas sana, cahaya indah. Ada harapan baru di setiap pagi.
“ Dan demi malam apabila telah sunyi”
“ Tuhanmu tidak meninggalkanmu (Muhammad) dan tidak pula membencimu.”
“ Ddan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
“ Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas”
“ Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)”
“ Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”
“ Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”
“ Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang”
“ Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya)”
“ Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)”
*dalam video yang saya dengar, kata-katanya lebih menyentuh, perumpamaannya lebih mengena, saya belum bisa tulis di sini. Hp saya koma lagi. :D
Comments
Post a Comment