Skip to main content

Bully part 1

"perut loe gede amat, udah berapa bulan?"
"itu jidat apa lapangan bola? lebaar.."
"eh, sendirian aj... hari gini masih sendiri?"

itu pertanyaan yang lazim kita dengar di jaman sekarang. sebenarnya tidak cocok disebut sebagai pertanyaan, tapi pernyataan yang gak pernah butuh jawaban. Hanya kata-kata spontan yang keluar sebagai cikal bakal bahan tertawaan.   Ini bukan lagi sesuatu yang tabu untuk dilakukan, tapi sudah menjadi habit yang menyebar. Mungkin di dunia sehari-hari memang sudah ada, tetapi menjadi hal yang lebih lazim lagi ketika disiarkan di televisi. Di peragakan oleh artis kenamaan, yang kemudian mudah sekali untuk di contoh masyarakat umum sebagai bahan lelucon di kehidupan sehari-hari.

kata-kata yang gak pantas sebenarnya dikeluarkan hanya untuk membuat kita terhibur sesaat. kata-kata yang kita kenal sebagai "bully" adalah senjata ampuh untuk membuat seseorang tidak bersyukur atas nikmat yang ada pada dirinya. Membuat yang dibully terasa terintimidasi dengan kondisinya sendiri. Padahal kadang bully yang ditujukan kepadanya adalah sesuatu yang memang di luar kendali ia sendiri. Tapi kenapa kita selalu bersenang-senang di atas ketidaknyamanan orang lain?
Mungkin karena hal itu sekarang dianggap sudah lazim. Orang yang hanya berkata jika hal tersebut dirasa penting bisa jadi tereliminasi dari pergaulan "anak hits", jadi anak cupu, gak asik, terlalu serius. Sedangkan orang yang ngomong nyablak, apa adanya, akan dianggap asik, meskipun kadang apa yang ia keluarkan adalah hal-hal yang tidak pantas untuk didengar.

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan

Dulu gak pernah kepikiran bakal melangkah sejauh ini. Kalo dibandingin sama orang lain mungkin udah ketinggalan jauh, tapi jika pembandingnya adalah "aku yang dulu" maka rasanya lumayan sebuah kemajuan untuk punya tekad & mental seyakin ini Pas pertama kali tercetus pengen pendidikan lagi antara yakin gak yakin. Ini beneran mau sekolah lagi apa cuma jadi pelarian aja. Waktu berlalu keinginan untuk sekolah kadang timbul kadang tenggelam. Kalo lagi suntuk sama kerjaan, rasanya pengen sekolah lagi. Tapi kalo kerjaan adem ayem, udah ah disini aja. Masih dalam tahap nge'fixin niat. Karena secara pribadi saya sangat memegang teguh hadits "innamal a'malubinniyat " (maaf jika penulisan redaksinya salah). Bias sedikit aja dalam niat, maka kelar semua apa yang diusahakan. Gak jadi pahala, gak lillahita'ala. Dalam hitungan tahun saya masih bergelut dalam ngfixin niat tadi. Nyari-nyari hal yang emang bener-bener dijadiin fondasi kuat sebagai niat, harapannya...

Cukup Tiga Tetes, Bye!

  Hari ini, senin 17 Januari 2022. Ada sedikit pikiran yang menganggu akhir-akhir ini. Kenapa ambisi untuk satu hal itu pelan-pelan mulai luruh. Maksudku, bukankah dia orang yang ditunggu sejak lama? Orang yang masuk circle utama meskipun dia mungkin tidak tahu. Kenapa rasanya seperti, tidak ada jalan lagi untuk membuatnya sesuai dengan harapan 1 tahun lalu, 2 tahun lalu, heey bukan, bahkan ambisi itu adalah harapan belasan tahun lalu? Dan, pagi ini. Duar. Perasaan lega itu datang. Oke, cukup tiga tetes air mata saja sebagai salam perpisahan atas harapan masa lalu. oh wait, hey kenapa menetes terus? oke, boleh tiga tetes lagi, pastikan matamu tidak merah. Haruskah minum kopi sebagaimana yang dilakukan Youngro dan So Hoo dalam Snowdrop untuk menghapus kenangan buruk? Hey , bukankah ini kenangan baik? Tidak harus dihapus dengan segelas kopi panas. Aku lupa sedang puasa sunah hari ini. Anak baik, cup cup cup. Backsound : Lagu Galau dari rumah tetangga sebelah, “Bu...

Sampai Bertemu di Hari Bahagia!

Jangan sekolah dulu, nanti jodohnya jauh  Wah, udah mau 30 tahun ya, hati-hati nanti nyari jodohnya susah, hamil di atas 30 tahun itu riskan banget lho.  Makin nambah umur, makin tua, saingannya tambah banyak nih buat dapetin jodoh. Yang lebih cantik, muda dan soleha pasti banyak.  Karir mulu sih, nyari jodoh kapan.      Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang mungkin kamu dapat ketika umurmu tidak muda lagi dan tak kunjung menikah.       Ada satu hal yang akhir-akhir ini membuat saya menjadi lebih positif dibanding tahun lalu. Yang saya pikirkan ketika hal itu terbersit dalam hati adalah,”saya harus berbagi hal ini ke orang lain”. Ada banyak sekali kisah-kisah tentang bagaimana seorang manusia memutuskan untuk tidak terlalu fokus pada pemenuhan kebutuhan biologis yang satu ini. Dulu bahkan saya menempel sticky note dengan tulisan “Imam Nawawi tidak menikah selama hidupnya” di meja belajar.       Kata “men...